Kisah Hikmah: Doa Seorang Kaya Yang Kikir

Category: Kisah, Motivasi 0 0

Selagi masih ada dalam ingatan maka saya menuliskan kisah nyata ini.

Adalah seorang yang kaya di kampung tersebut. Dia dikenal sangat pelit penuh perhitungan dan semua masyarakat sekitar tahu siapa dia. Begitulah kehidupan berjalan di awal kisah ini.

Suatu saat orang kaya yang pelit ini berniat untuk naik haji ke Mekkah. Niat yang kuat didukung dengan materi yang ada akhirnya orang kaya ini berangkatlah ke Mekkah menunaikan haji.

Dalam hati orang kaya ini ada sebuah permintaan yang ingin sekali agar dikabulkan oleh Alloh. Dengan berhaji ke Baitullah Mekkah harapannya bisa lebih mudah Alloh kabulkan doanya. Karena saat berhaji termasuk waktu yang mustajab terkabulnya doa. Orang kaya tersebut meminta kepada Alloh supaya dia bisa berubah menjadi orang yang suka berbagi.

Sampailah di Tanah Suci…

Diceritakan bahwa si orang kaya ini masuk ke masjid Nabawi di Madinah. Untuk bisa mencapai shaf depan tidaklah mudah, bahkan meski harus datang lebih awal ke masjid. Karena padatnya jamaah yang berdatangan untuk shalat berjamaah dan semua punya harapan agar menempati shaf terdepan. 

Tapi nasib si kaya ini mujur karena dia berhasil menempati shaf depan. Rasa beribadah di sini terasa berbeda dengan beribadah di kampung halaman. Karena memang rasa khusyu’ dan keyakinan saat berhaji dimana hati fokus berharap ridho Alloh semata, tentu pembawaannya berbeda dengan perasaan saat kita berada di kampung halaman. Di kampung halaman kita beribadah tapi pikiran ingatannya lari kepada bisnis, jualan, proyek, sawah ladang, istri anak dan sebagainya. Tidak fokus.

Dalam keadaan bahagia dan khusyu’ bermunajat kepada Alloh, si kaya tersebut merasa dikagetkan oleh seseorang yang memegang pundaknya. Ketika dia menoleh ternyata ada seorang tinggi besar berbicara dengan bahasa isyarat karena bukan orang Indonesia. Orang tersebut memberi isyarat menunjuk tempat duduk si kaya ini, maksudnya “saya duduk di situ”. Langsung saja si kaya marah dan menyuruh si tinggi besar itu pergi dan cari tempat duduk di shaf lain.

“Kurang ajar saya disuruh pergi lalu dia mau duduk di tempat saya, enak saja!”

Akhirnya orang tersebut tanpa membantah pergi meninggalkan si kaya ini. Waktu berjalan sesaat tapi tiba-tiba si kaya ini kaget: “Asatgfirulloh!” Ucapnya beristigfar sambil mencari orang tinggi tadi. Rupanya si kaya ini teringat dengan permintaannya kepada Alloh supaya dia bisa menjadi orang yang suka berbagi. Orang tinggi yang dicarinya pun telah tiada, si kaya ini terus istigfar kepada Alloh semoga tidak terulang lagi. “Hanya berbagi tempat duduk saja tidak bisa, alangkah pelitnya saya.”

Pada hari berikutnya, pembagian buku panduan haji oleh petugas haji. Si kaya mendapatkan buku panduan tersebut dan duduk dalam shaf. Sedang ia pelajari buku panduan tersebut tiba-tiba seseorang muncul di hadapannya. Orang asing, dia mau minta buku panduan yang sedang dipegang si kaya. Si kaya kaget, langsung dia marah: “Kenapa minta buku saya, itu minta sama petugas!”

Orang asing tersebut pergi berlalu tanpa sepatah kata pun. Si kaya masih mengomel tidak habis fikir dengan kejadian barusan. Masa buku ini diminta….., belum hilang emosinya terhadap orang asing tadi tiba-tiba si kaya ini teringat sesuatu… “Astagfirulloh, astagfirulloh!” Dia langsung menoleh mencari orang asing yang meminta bukunya tadi tapi orang asing tersebut sudah tidak ada.

“astagfirulloh ya Alloh!” Cuma buku begini saya tidak mau kasih, padahal kalau saya kasih nggak juga saya rugi. Paling saya minta lagi sama petugas. Alangkah pelitnya saya, astagfirulloh……

Begitulah, ternyata Alloh hanya mendatangkan seseorang untuk menguji sejauh mana kelapangan hatinya untuk siap menjadi orang yang suka berbagi. Alloh Maha Mengetahui keimanan seseorang. Alloh Maha Mengetahui isi hati dan harapan seseorang. Ujian adalah ujian, tetapi kali ini Alloh tidak memberikan lagi ujian yang serupa kepada si kaya. Dua ujian Alloh berikan dan si kaya ini tidak lulus pada saat itu, namun Alloh Maha Menguasai isi hati.

Dia pun melaksanakan haji hingga kemudian kembali ke tanah air. Tidak lama seiring waktu tersiar kabar bahwa si kaya tadi kini telah menjadi orang paling dermawan di kampungnya.

Related Articles

Add Comment