Cappucino Cincau: Syukur Sama Orang Khilafatul Muslimin

Category: Catatan, Kisah 0 0

Suatu hari saya service komputer di salahsatu kelurahan Taliwang. Waktu itu siang hari jam istirahat usai dzuhur, siang itu cerah dan panasnya Taliwang terasa sekali.

Terdengar seorang atasan bilang ke anggotanya “alo beli kapucino ust Bashir sengara’ eh” (pergi beli kappucino ust Bashir sebentar kesana yah). “Me pipes” (mana uangnya) kata karyawan perempuan, kebetulan tetangga saya.

Uang lembaran merah keluar dan karyawannya berangkat berdua, sama-sama perempuan. Mereka sebelumnya mondar mandir sebentar selesaikan kerjaan sebelum bergegas berangkat beli kappucino.

10 menit kemudian…
Satunya datang balik ke kantor kelurahan sepetinya kelupaan sesuatu.

“Apambuya” (apa kamu cari) kata atasan.

“Kririt pipes, nonya ningka ke?” uang ketinggalan, gak ada yang lihat disini kah? kata karyawan perempuan itu tegang.

“Nuya kam kube?” (bukan sudah saya kasih tadi?) kata atasan.

“Gimana dah, sedang dibuat kappucinonya?!” kata karyawan.

Wah alamat gak jadi kita minum kappucino ini. Kata atasan. Kelihatannya panik.

Cukup lama keliling sana-sini nyari sambil muka cemas semuanya, atasan, karyawan tadi dan dibantu karyawan perempuan satu lagi. Tiba-tiba….

Hp berdering! temannya yang menunggu di kappucino nelpon.

“Hallo, mahanu mahanu mahanu….” katanya yang disana. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan dari sana. Cuma tiba-tiba karyawan yang ketinggalan uang tadi girang senang. Kayak kehilangan beban berat.

“Alhamdulillah!!!” katanya girang… ^_^

“Gak ingat saya uang sudah saya serahkan tadi, jadi pas bikin saya cari uangnya gak ada, kirain lupa. Tahu-tahu disana penjualnya ngasih kappucinonya sekalian kembalian.”  kisah singkat kronologi temannya yang nunggu disana via telepon tadi dia ceritakan kepada atasannya.

Ditanya sama teman yang nunggu disana, “ih uang apa ini?”

“Kan kembalian, tadi uang 100 ribu?!” kata karyawan kappucino santai.

“Alhamdulillah…, jangi nojari” (alhamdulillah, hampir gak jadi kappucinonya) kata atasan yang ikut lega, sekalian lega 100 ribu gak jadi ilang. 😀

“Syukur mo tau KHILAFATUL” (syukurnya sama orang Khilafatul Muslimin) kata si atasannya.

Pokoknya semuanya merasa lega kayak gimanaa gitu.

Alhamdulillah…., senang juga dengar endingnya. Mereka bilang orang Khilafatul Muslimin itu jujur. Lupa mereka, saya warga Khilafatul Muslimin lagi ada di dalam. 😀 😀 😀

===============================================

Komputer sudah oke, saya tinggalkan kelurahan sambil senyum sendiri dan bersyukur atas karunia Alloh.

Itulah persepsi masyarakat di salahsatu kelurahan Taliwang pada umumnya tentang kami warga Khilafatul Muslimin. Alhamdulillahi Robbal Aalamiin!

 

Catatan:

– Kappucino yang dimaksud adalah kappucino Ammi Abshir, kapuccino pertama di Taliwang.

– Kelurahan yang ada dalam cerita, pada tahun 2003 beranggapan Khilafatul Muslimin adalah sesat. Pada tahun 2010 Khilafatul Muslimin masih dianggap miring oleh masyarakat. Mulai ada perubahan lebih baik dan dikenal masyarakat sejak adanya program Jalan Sehat dan program Khatib Jum’at di masjid masyarakat. Disamping adanya sosialisasi akhir bulan pindah-pindah masjid. Dilanjutkan dengan Dafis. Saat ini ditambah program bekam.

– Dengan menjalin komunikasi dan silaturrahim, ummat bisa tahu siapa kita. Tanpa itu hasilnya sangat tipis seperti kertas dibelah tujuh bahkan tipis lagi.

Related Articles

Add Comment