Mengenal Khilafah Sistemnya Ummat Islam untuk Muslim dan Non Muslim

Category: Khilafah 24 0

Mengenal Khilafah Sistemnya Ummat Islam – Mari belajar dari sejarah yang telah menunjukkan bahwa Sistem Islam adalah solusi hidup umat manusia di muka bumi ini.

APAKAH KHILAFAH ITU?

Khilafah berasal dari kata al-khalfu – khalafa – yakhlufu yang berarti belakang lalu berkembang menjadi khalfun, kholifah, Khilafah, khalaif, dan khulafa. Didalamnya terkandung makna pengganti generasi, pemimpin dan pewaris bumi. Kha-la-fa dalam arti kepemimpinan terdapat dalam Al-Qur’an dengan makna generasi pengganti (QS Al-Araf : 69, QS Maryam : 59). Suksesi generasi dan kepemimpinan (QS Al An’am : 165, QS Yunus : 14 dan 73, QS Al-Fatir : 39). Setelah memaparkan berbagai dalil Syekh Abdul Majid Al-Khalidi mendefinisikan Khilafah secara syar’i adalah “Khilafah didefinisikan sebagai kepemimpinan umum bagi kaum muslimin secara keseluruhan di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syara serta mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia” (Qowaid Nidzam Al-hukum fii Al Islam hal 238)

Jama’ah atau Khilafah menurut Syekh Abdul Qodir Hasan Baraja adalah wadah bagi kehidupan bersama seluruh kaum muslimin dimuka bumi untuk melaksanakan ajaran Islam dengan seorang Imam/Kholifah/Amirul mukminin sebagai pemimpin (Gambaran Global Pemerintahan Islam hal 73).

Berkhilafah berarti kita melaksanakan kewajiban beruIil amri minkum. Allah SWT mewajibkan setiap orang beriman untuk taat kepada Alloh, Rasulullah, dan Ulil amri minkum. Sebagaimana firman-Nya (Q.S. 4 : 59)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Alloh dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Ketika Rasulullah masih hidup ulil amri kaum muslimin adalah Rosulullah SAW, dan setelah Rasulullulah SAW wafat, ulil amri kaum muslimin adalah Kholifah Abu Bakar Ash Shiddiq RA, setelah beliau wafat digantikan oleh Umar bin Khotob RA sebagai Kholifah atau Amirul mu’minin dan seterusnya. Jadi menurut praktek Rasulullah SAW dan para sahabatnya, bahwa ulil amri minkum setelah Rasullulah tiada adalah para kholifah atau amirul muminin. (Sebaik-baik tafsir Al Qur’an adalah yang telah dipraktekan oleh Rasululullah SAW dan para sahabatnya). Selanjutnya data dan fakta sejarah menunjukan bahwa, berabad-abad kepemimpan kaum muslimin senantiasa di pegang oleh para Kholifah/Amirul Muminin, (lihat daftar nama urutan nama para Kholifah seterlah wafatnya Rasullullah SAW).

 

BENARKAH ULAMA ADALAH ULIL AMRI MINKUM KARENA ULAMA ADALAH PEWARIS PARA NABI?

Ketika Rasulullah wafat, banyak para sahabat yang berilmu (Ulama) di antaranya Ibnu Abas, Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, dan lain-lain. Namun kaum kuslimin saat itu tetap berusaha mengangkat seorang pemimpin untuk menjadi ulil amri kaum muslimin, andai kata ulama adalah ulil amri minkum maka kaum muslimin saat itu tidak perlu lagi berusaha mengangkat seorang kholifah, karena saat itu sudah banyak para ulama yang menjadi ulil amri mereka. Memang seorang ulil amri minkum seharusnya seorang ulama, namun tidak semua ulama adalah ulil amri minkum.

 

APAKAH KHILAFAH SAMA DENGAN NEGARA?

Khilafah adalah wadah bersatunya kaum muslimin yang bersifat universal dan tidak dibatasi oleh wilayah teritorial, sedangkan negara adalah sistem pemerintahan yang tidak bersifat universal dan dibatasi oleh daerah teritorial. Pemimpin dalam sistem Khilafah adalah Kholifah/Amirul Mukminin sedangkan negara pemimpinnya seorang Presiden (Kepala Negara).

 

APAKAH SAH KEKHOLIFAHAN TANPA MENGUASAI WILAYAH KEDAULATAN?

Pertama : Berkhilafah adalah melaksanakan perintah Alloh untuk berulil amri minkum, dalam Al-Qur’an (QS 4:59), dalam ayat tersebut berulil Amri Minkum tidak dipersyaratkan harus memiliki wilayah kedaulatan. Adapun syarat berulil amri minkum pada ayat tersebut adalah beriman kepada Alloh dan hari akhir. Demikian pula tidak dijumpai dalam hadits bahwa syarat ber-ulil amri minkum harus memiliki wilayah kedaulatan.

Kedua : Ber-Khilafah adalah melaksanakan perintah bersatu (berjama’ah) dalam sistem khilafah. Jika khilafah harus dipersyaratkan dengan adanya wilayah kedaulatan, adakah dalil Al-Qur’an dan Ash-Sunnah yang menyuruh kita bersatu setelah memiliki kekuasaan daulah atau dengan kata lain apakah kita boleh berpecah belah sebelum memiliki wilayah kedaulatan. Rasulullah ketika memimpin ummat diawali tanpa memiliki wilayah kedaulatan begitulah Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah pun memulainya tanpa wilayah kedaulatan.

 

APAKAH SAH SEORANG KHOLIFAH YANG TIDAK MEMBERLAKUKAN HUKUM HUDUD (SYARIAT ISLAM) SECARA KAFFAH?

Melaksanakan syariah dalam Islam dituntut sesuai kemampuan, contohnya seorang suami harus melaksanakan syariat Islam di rumah tangganya. jika dalam kondisi tertentu dia tidak mampu melaksanakan syariah kepada anak istrinya apakah dia tidak sah menjadi seorang suami (kepala rumah tangga). Begitu pula seorang kholifah ia tetap syah sebagai kholifah jika karena situasi kondisi dia belum mampu untuk memberlakukan syariah secara kaffah.

 

APAKAH DALAM PELAKSANAAN SYSTEM ISLAM ADA PEMISAHAN ANTARA ULAMA DAN UMARO?

Sistem khilafah adalah menggabungkan dua unsur kepemimpiman dalam satu kesatuan. Seorang kholifah mestinya ulama dan ketika dia memimpin dibantu oleh para ulama.

 

ADA KELOMPOK DAKWAH YANG JUGA MENCITA-CITAKAN KEKHILAFAHAN, APAKAH KHILAFAH ITU SEBUAH SARANA ATAUKAH SEBUAH TUJUAN (CITA-CITA) ?

Cita-cita atau tujuan seorang muslim adalah mencari ridho Alloh SWT, dan Khilafah adalah sarana untuk mencari ridho Alloh karena itu khilafah bukan dicita-citakan tapi diamalkan.

 

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN KHILAFAH ‘ALA MINHAJINNUBUAH ?

Khilafah ‘ala minhajinnubuwah adalah khilafah yang mengikuti metode kenabian sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Setelah masa Nubuwah selesai akan terjadi masa Khilafah Ala minhajin nubuwah, kemudian terjadi Mulkan Adlon, kemudian Mulkan Jabariyatan, bam setelah itu kembali lagi kepada Khilafa Ala minhajin Nubuwah” (HR. Ahmad)

Methode kenabian ada dalam dua masa : pertama masa disaat lemah dan kedua masa disaat kuat (disaat telah mendapat dukungan mayoritas umat). Khulafaurrasyidin adalah wujud pelaksanaan khilafah ‘ala minhajin nubuwah dimasa kuat dan Khilafatul Muslimin saat ini berusaha mengikuti methode kenabian (minhajin nubuwah) disaat lemah.

 

APAKAH PENGANGKATAN SEORANG KHOLIFAH HARUS MENUNGGU MUNCULNYA SEORANG IMAM MAHDI?

Rasululloh SAW dalam haditsnya menjanjikan akan turunnya Imam Mahdi diakhir zaman tetapi tidak ada nash dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyatakan untuk berlllil amri minkum (berkhilafah) harus menunggu Imam Mahdi.

 

APAKAH MUSTAHIL UMMAT ISLAM BERSATU KARENA RASULULLAH MERAMALKAN UMMAT ISLAM AKAN BERPECAH BELAH MENJADI 73 GOLONGAN?

Bersatu adalah perintah Alloh tentu Alloh tidak memerintahkan sesuatu yang mustahil. artinya ketika ummat Islam berpecah belah dan Alloh memerintahkan kita untuk bersatu, apakah kita termasuk orang yang mau bersatu dalam sistem yang haq (khilafah) ataukah kita memilih berpecah belah.

 

BUKANKAH KHILAFAH JUGA SEBUAH FIRQOH SEMENTARA MEMBANGGAKAN FIRQOH ADALAH TA’ASUB GOLONGAN (ASYOBIYAH) YANG DILARANG ALLOH SWT?

Dalam Islam hanya ada dua golongan : golongan Alloh (Hizbullah) dan golongan syetan (hizbussyaithan) menurut Islam golongan Alloh hanya ada dua yaitu: sistem kenabian dan sistem khilafah. Seorang mukmin wajib bangga dengan khilafah sebagai sistem yang disyariatkan Alloh, sehingga membanggakannya berarti membanggakan syariat Alloh sehlngga tidak ashobiyyah.

 

APAKAH SAH PENGANGKATAN SEORANG KHOLIFAH MANAKALA TIDAK DIANGKAT DAN DIAKUI OLEH MAYORITAS UMMAT ATAU ULAMA?

Menurut Abdul Qodim Zallum dalam bukunya “Sistem Pemerintahan Islam” jika belum terangkat seorang kholifah dimuka bumi karena wajibnya keberadaan seorang kholifah maka meskipun diangkat oleh sekelompok orang maka hukumnya tetap sah.

Menurut Syekh Abdullah bin Umar bin Sulaiman dalam kitabnya “Imamatul Uzma” ketika para ulama yang akan menegakkan khilafah sulit untuk dikumpulkan maka keberadaan khilafah tidak harus menunggu adanya ahlul hali wal aqdi, namun dapat dilakukan oleh ahlul ikhtiyar yaitu sekelompok orang yang berusaha sungguh-sungguh untuk menegakkan khilafah karena ijmaa ulama menyatakan bahwa ketiadaan kholifah hanya boleh tiga hari sebagaimana yang dipraktekkan para sahabat nabi dalam pengangkatan Kholifah Abu Bakar Ash Shiddiq setelah Rasulullah SAW wafat.

 

KEWAJIBAN BERSATU (BERJAMA’AH) DALAM SISTEM

Setiap muslim wajib bersatu (berjama’ah) dalam sistem Khilafah berdasarkan :

AL QUR’AN

QS. Al Baqoroh : 30 :

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠

Artinya : “lngatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi.” Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (kholifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Keterangan : Menurut Tafsir Al-Qurtubi I ayat ini menjadi dasar wajibnya kaum muslimin mengangkat seorang Kholifah.

QS. Ali Imron : 103

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Alloh, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk “

Keterangan : Ibnu Katsir mengatakan dengan ayat ini Alloh SWT mewajibkan kaum muslimin untuk bersatu (berjama’ah) dan haram berpecah-belah (berfirqoh-firqoh).

QS. An-Nissa : 59

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

Artinya : “Hai orang-orangyang beriman, ta’atilah Alloh dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”

Keterangan : Seorang Muslim wajib memiliki tiga ketaatan :

  1. Kepada Alloh SWT dengan mengikuti Al-Qur’an.
  2. Kepada Rasulullah SAW dengan mengikuti sunnahnya.
  3. Kepada ulil amri minkum dengan berkhilafah (karena ulil amri minkum setelah wafatnya Rasulullah SAW adalah para kholifah atau amirul mukminin)

QS. Al Anfal : 73

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍۚ إِلَّا تَفۡعَلُوهُ تَكُن فِتۡنَةٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَفَسَادٞ كَبِيرٞ ٧٣

Artinya : “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pellndung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Alloh itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

Keterangan : Jika orang-orang kafir memiliki kepemimpinan secara universal (system kepausan) maka umat Islampun seharusnya memiliki kepemimpinan secara universal (system Khilafah) agar tidak terjadi fitnah dan kerusakan dibumi.

 

QS. Al Hud : 118 – 119

وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخۡتَلِفِينَ ١١٨ إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمۡۗ وَتَمَّتۡ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ ١١٩

Artinya : “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. “

Keterangan : Manusia senantiasa berselisih dan berpecah belah kecuali orang-orang yang mendapat rahmat Alloh SWT sajalah yang mau bersatu.

 

QS. ASy Syu’ra : 13

۞شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحٗا وَٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِۚ ٱللَّهُ يَجۡتَبِيٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ ١٣

Artinya : “Dia telah mensyariatkan hagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Alloh menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”

Keterangan : Setiap muslim mendapatkan amanah untuk menegakkan Ad-din dan haram berpecah belah dalam menegakkannya.

 

QS. Ar-Rum : 31-32

۞مُنِيبِينَ إِلَيۡهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٣١ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ كُلُّ حِزۡبِۢ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ ٣٢

Artinya : “Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh, Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama merekadan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

Keterangan : Alloh SWT memerintahkan kita untuk bertobat dan menghukumi perbuatan memecah belah dan bergolong-golongan serta bangga dengan golongan selain yang dicontohkan Rasulullah SAW dan sahabatnya sebagai perbuatan syirik.

 

QS. Ali Imran : 105

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخۡتَلَفُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ١٠٥

Artinya : “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesu-dah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang men-dapat siksa yang berat”

Keterangan : Alloh SWT melarang kaum muslimin untuk berselisih dan berpecah belah dan diancam oleh Alloh SWT dengan azab yang pedih baik didunia maupun akhirat.

 

QS. Al-An’am : 65

قُلۡ هُوَ ٱلۡقَادِرُ عَلَىٰٓ أَن يَبۡعَثَ عَلَيۡكُمۡ عَذَابٗا مِّن فَوۡقِكُمۡ أَوۡ مِن تَحۡتِ أَرۡجُلِكُمۡ أَوۡ يَلۡبِسَكُمۡ شِيَعٗا وَيُذِيقَ بَعۡضَكُم بَأۡسَ بَعۡضٍۗ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَفۡقَهُونَ ٦٥

Artinya : “Katakanlah : ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongangolongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya) “.

Keterangan : Allah akan menimpakan azab dan merasakan keganasan satu golongan atas golongan lain akibat perpecahan ummat

 

 AL-HADITS

Hendaklah kalian berjama’ah dan jangan bercerai berai, karena syetan bersama yang sendiri dan dengan dua orang lebih jauh. Barangsiapa ingin masuk ke dalam surga maka hendaklah komitmen kepada jama’ah” (HR At-Tirmidzi).

Dari Arfajah bin Syuraih ra. Rasulullah SAW berkata: “Sesunggungnya tangan Alloh (pertolongan Alloh) ada dalam jama’ah karena sesungguhnya syetan bergabung bersama orang yang memisahkan diri dari jama’ah” (HR. Nasai).

Hendaklah kalian berjama’ah dan tinggalkanlah berpecah-belah. Sesungguhnya berjama’ah itu rahmat dan berpecah-belah itu azab (HR Ahmad).

Dari Harist Al Asy’ari bahwa Nabi SAW bersabda: “Dan saya perintahkan kepadamu lima hal dimana Alloh SWT memerintahku akan hal tersebut: Berjamaaah, Menden-gar, taat, hijrah dan jihad. Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan jama’ah sejengkal, maka telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya kecuali jika kembali. Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan Jahiliyah maka termasuk buih Jahannam. Seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, walaupun mengerjakan shalat dan puasa”. Rasul SAW menjawab: “Walaupun shalat dan puasa. Maka serulah dengan seruan Alloh yang telah menamakanmu muslimin, mukminin hamba Alloh” (HR Ahmad dan At-Turmudzi).

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW berkata: “Syetan berkeinginan kuat (untuk menggangu) kepada satu atau dua orang tetapi apabila mereka ada tiga orang, maka syetan tidak bersemangat lagi menggangu mereka” (HR At-Tirmidzi).

Dari Mu’awiyah bin Abi Sofyan ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa mati dengan tidak memiliki imam maka ia mati dalam keadaan jahiliah (HR Ahmad)

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW berkata: “Dengar dan taatlah kalian (kepada amir kalian) walaupun yang dijadikan amir kalian adalah seorang hamba sahaya Habsyi yang kepalanya kecil bagai kismis” (HR. Muslim)

Keterangan : Seorang mukmin wajib memiliki amir untuk mendengar dan taat meskipun seorang budak Habsyi asalkan dia memimpin sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah.

Dari Huzaifah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda : ” Barang siapa yang memisahkan diri dari jama’ah dan memandang rendah wibawa amir, maka ia akan menjumpai Allah dalam keadaan kehilangan wajah dikedua sisinya” (HR. Ahmad).

Dari Abdullah bin Umar ra dari nabi SAW bersabda : “Tidak halal tiga orang hidup di sejengkal tanah dibumi kecuali mengangkat diantaranya menjadi pemimpin (amir)” (H.R. Ahmad)

Keterangan : Tiga orang saja harus mengangkat amir apalagi lebih dari tiga orang. Maka ummat islam wajib mengangkat seorang kholifahlAmirul Mu’minin.

Dari Ibnu Abbas ra dari Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa melihat sesuatu yang ia tidak sukai pada pemimpinnya, maka bersabarlah karena barangsiapa yang meninggalkan jama’ah sejengkal kemudian mati, kecuali mati dalam keadaan jahiliyah” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar dar Nabi SAW bersabda : “Barang siapa mati tidak ada ikatan bai’at dilehernya maka dia mati seperti mati jahiliah” (HR. Muslim)

Keterangan : Menurut Imam An-Nawawi dalam syarah muslim bai’at yang dimaksud adalah menggangkat kholifah atau dalam sistem Khilafah.

Adalah Bani Israil di pimpin para nabi, apabila nabi wafat maka diganti oleh nabi yang lain. Tiada nabi lagi sesudahku yang ada adalah para kholifah dan berjumlah banyak” (HR. Ahmad)

Keterangan : Hanya ada dua wadah menyatukan ummat yaitu sistem kenabian dan sistem Khilafah

Kesimpulan Hadist : Bersatu atau berjama’ah dipimpin oleh seorang amir (pemimpin) hukumnya wajib dan wadah bersatunya umat Islam hanya ada dalam dua sistem : pertama Sistem kenabian dan kedua sistem Khilafah yang dipimpin oleh seorang Kholifah atau Amirul Mukminin.

SAHABAT

Kholifah Umar bin Al-Khatab ra. berkata : “Tiada Islam kecuali dengan berjama’ah, tiada berjama’ah kecuali dengan imamah/kepemimpinan, tiada imamah/kepemimpinan kecuali dengan bai’at, tiada bai’at kecuali dengan ketaatan”

Ali bin Abi Thalib ra. berkata : ” Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan dengan kebathilan yang terorganisir”

ULAMA

Imam Alauddin Al Kasani, ulama besar dari Mahzab Hanafi berkata : “Sesungguhnya mengangkat kholifah adalah fardlu tidak ada perbedaan pendapat diantara ahlul haq mengenai masalah ini” (Imam Al Kasani, Bada’l Ash-Shanaifi tartib Asy Syari, XIV/’406).

Imam Al- Quthubi seorang ulama besar dari Mahzab Maliki menjelaskan : “Tafsir surat Al-Baqoroh ayat 30 bahwasanya ayat ini merupakan dalil paling asal mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/kholifah yang didengar dan ditaati” untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan hukum-hukum kekholifahan, tidak ada perselisihan tentang kewajiban tersebut dikalangan umat Islam maupun dikalangan ulama kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sam (Imam Al-Qurtubi, Al-Jami’il Ahkam Al-Qur’an 1/264-265).

Al-A’lamah Abu Zakaria An-Nawawi dari kalangan mahzab Syafi’i mengatakan : “Para imam mahzab telah bersepakat, bahwa kaum muslim wajib mengangkat seorang kholifah” (Imam An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim XII/205)

Imam Umar bin Adil Al-hambali, ulama mahzab Hambali menyatakan: “Ayat ini (QS Al-Baqoroh : 30) adalah dalil kewajiban mengangkat seorang imam /kholifah yang wajib didengar dan ditaati untuk menyatukan pendapat serta untuk melaksanakan hukum-hukum tentang kholifah. Tidak ada perbedaan tentang kewajiban tersebut dikalangan para imam (Imam Umar bin Adil Tafsir Al Lubaabfi Ulum al kitab 1/204).

Hasil Mudzakarah Ulama di Surabaya pada bulan 8 Maret 2014 yang dihadiri 300 ulama dari seluruh Indonesia memutuskan bahwa “menegakkan khilafah adalah hukumnya fardhu kifayah sehingga meskipun kholifah itu meski diangkat oleh sekelompok orang hukumnya tetap sah” (Harian Surya, 9 Maret 2014)

FAKTA SEJARAH

Rasulullah SAW wafat, jenazahnya tertunda selama tiga hari untuk dimakamkan karena ada kewajiban yang lebih penting yaitu mengangkat pengganti kepemimpin Rasulullah yakni kholifah/ amirul mukminin/ulil amri bagi kaum muslimin. Kurang lebih selama 13 abad umat Islam senantiasa mempertahankan persatuan dan kesatuannya dalam sistem khilafah karena hal itu merupakan sebuah kewajiban. (lihat daftar kekholifahan Islam).

Fakta setelah kekholifahan runtuh maka umat Islam terkotak-kotak dalam sekat-sekat nasionalisme dan kelompok-kelompok organisasi buatan manusia yang membuat umat Islam menjadi lemah dan dikuasai oleh musuh-musuhnya.

RENUNGAN

Dari dasar-dasar di atas dapatlah kita simpulkan bahwa bagi seorang muslim bersatu/berjama’ah dalam sistem khilafah adalah kewajiban yang mutlak dan meninggalkannya hukum-nya haram.

Sebagian kaum muslimin beranggapan bahwa ber-khilafah dapat dilaksanakan dengan syarat : memiliki kemenangan politik dengan mengusai wilayah kedaulatan, dipilih oleh mayoritas ummat/ulama, Kholifah adalah seorang imam mahdi yang telah dijanjikan oleh Alloh SWT, Kholifah adalah seorang yang berasal dari suku quraisy, dan lain sebagainya.

Jika menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah wadah bersatunya umat Islam adalah sistem khilafah maka adakah keterangan berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa : Kita boleh berpecah belah sebelum syarat-syarat diatas terpenuhi atau kita baru boleh bersatu setelah syarat-syarat tersebut terpenuhi, ternyata tidak ditemukan dalil yang membolehkan hal tersebut.

Tidakkah kita takut akan azab Alloh akibat perpecahan (QS. Ali Imron : 105) yang merupakan dosa kesyirikan (QS. Ar-Rum : 31-32) sementara dosa kesyirikan adalah dosa yang tidak terampuni (QS An Nissa : 48) dan dapat menghapuskan amal (QS Az- Zumar: 65).

Apakah kita tidak khawatir mati dalam keadaan su’ul khotimah karena Rasulullah berpesan kematian tanpa bai’at atau mengangkat imam/kholifah adalah kematian dalam keadaan jahiliah.

Para Sahabat Rasulullah merasa berdosa tiga hari hidup tanpa ulil amri minkum sehingga hams menunda memakamkan mayat Rasulullah, untuk mengangkat seorang kholifah, bagai-mana dengan dosa kita yang telah berpuluh-puluh tahun hidup tanpa ulil amri minkum.

Berkhilafah adalah salah satu ibadah yang hukumya wajib mutlaq, apakah kita harus menunggu sempurna syarat sehingga kita baru melaksanakan ibadah, bukankah bila kita telah berusaha memenuhi syarat syahnya ibadah, tetapi kita belum mampu memenuhinya ibadah kita tetap syah.

Ketika kita membolehkan banyak kelompok atau bergolong-golongan. Sementara Alloh SWT mewajibkan kita bersatu (satu wadah dan satu jama’ah), tidakkah kita termasuk orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Alloh SWT.

Bila kita mau bersatu dalam Khilafah maka Alloh SWT akan mampukan kita sebaliknya jika kita tidak mau maka kita tidak akan mampu bersatu. Mungkinkah karena kita lebih mendahulukan ra’yu dan nafsu ketimbang wahyu sehingga kita tidak mau bersatu.

Semoga dengan keterangan dan renungan ini kita bersegera merealisasikan perintah Allah SWT, berjama’ah dengan sistem khilafah dengan niat hanya mengharap ridho Allah semata.

Alhamdulillah dengan Rahmat Alloh SWT telah dimaklumatkan KHILAFATUL MUSLIMIN sebagai wadah bersatunya ummat se-dunia pada hari Jum’at tanggal 13 Rabiul Awwal 1418 H atau 18 Juli 1997 M.

 

PENGERTIAN BAI’AT

Definisi Bai’at menurut bahasa arab adalah asal kata ba’a, yabie’u bai’atan yaitu artinya menjual. Bai’at arti penjualan atau jual beli. Menurut istilah ialah suatu perjanjian kepada Alloh SWT yang wajib dipenuhi/dipatuhi untuk mendapatkan balasan dari sisi-Nya

Dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang bai’at :

QS. Al Fath : 10

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ ٱللَّهَ يَدُ ٱللَّهِ فَوۡقَ أَيۡدِيهِمۡۚ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِمَا عَٰهَدَ عَلَيۡهُ ٱللَّهَ فَسَيُؤۡتِيهِ أَجۡرًا عَظِيمٗا ١٠

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang berbai’at kepadamu hanyalah berbai’at kepada Alloh, tangan Alloh diatas tangan mereka barang siapa yang merusak bai’atnya berarti merusak dirinya sendiri, barang siapa yang menepati bai’atnya kepada Alloh maka diberi pahala yang besar”

QS Al-Fath : 18

۞لَّقَدۡ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ يُبَايِعُونَكَ تَحۡتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيۡهِمۡ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحٗا قَرِيبٗا ١٨

Artinya : “Sesungguhnya Alloh telah meridhoi orang-orang mukmin ketika berjanji setia kepadamu (Muhammad) dibawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada didalam hati mereka. Lalu Dia memberikan ketenangan alas mereka dan memberikan balasan dengan kemenangan yang dekat”

QS. Almumtahanah : 12

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ يُبَايِعۡنَكَ عَلَىٰٓ أَن لَّا يُشۡرِكۡنَ بِٱللَّهِ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَسۡرِقۡنَ وَلَا يَزۡنِينَ وَلَا يَقۡتُلۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ وَلَا يَأۡتِينَ بِبُهۡتَٰنٖ يَفۡتَرِينَهُۥ بَيۡنَ أَيۡدِيهِنَّ وَأَرۡجُلِهِنَّ وَلَا يَعۡصِينَكَ فِي مَعۡرُوفٖ فَبَايِعۡهُنَّ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُنَّ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ١٢

Artinya : “Wahai nabi! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan ba’at (janji setia), bahwa mereka tidak mepersekutukan suatu apapun dengan Alloh: tidak akan mencuri; tidak akan berzina; tidak akan membunuh anak-anaknya; tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang bark, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Alloh. Sungguh, Alloh Maha Pengampun, Maka Penyanyang”.

Dalil-dalil As-Sunnah :

Bai’at Aqobah pertama dilaksanakan oleh 12 orang kaum muslimin dan isi bai’atnya seperti bai’at para wanita-wanita disaat futuh mekkah (QS Al Mumtahanah : 12) Bai’at Aqobah kedua dilakukan oleh 75 orang sahabat nabi sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“maka kami bertanya, wahai Rasulullah tentang apakah kami memBai’atmu? Rasulullah bersabda kalian berBai’at kepadaku untuk senantiasa mendengar dan taat dikala bersemangat dan dikala malas serfs memberikan nafkah dikala kesusahan dan kemudahan dan tetap ber amar ma’rufnahi mungkar dan hendaklah kalian teguh membela kebenaran Alloh tanpa kalian merasa takut terhadap celaan, situkang tela dan hendaklah kalian menolongku maka kalian membelaku jika aku berada ditengah kalian sebagaimana kalian membela diri kalian, istri kalian dan anak-anak kalian dan bagi kalian adalah surga” (HR Ahmad dan Al Hakim)

Rasullulah bersabda : “Barang siapa mati tidak ada ikatan Bai’at dilehernya maka ia mati dalam keadaan jahiliyah” (HR Muslim).

Kholifah Umar bin Khatab mengatakan “Tiada Islam kecuali dengan berjama’ah, tiada jama’ah kecuali dengan imamah, tiada imamah kecuali dengan bai’at, dan tiada bai’at kecuali dengan taat”.

Berdasarkan keterangan di atas maka dalam rangka ittaba’ (mengikuti) apa yang telah dilaksanakan Rasulullah SAW dan sahabatnya maka seseorang yang akan menjadi warga Khilafatul Muslimin wajib melaksanakan bai’at untuk membuktikan bahwa dirinya siap mendukung sistem Islam. Niat melaksanakan bai’at tersebut semata-mata mengharapkan ridho dan ampunan Alloh SWT.

APAKAH BERBAI’AT SAMA DENGAN BERSYAHADAT ?

Bersyahadat adalah pernyataan seorang yang akan masuk Islam (menjadi seorang muslim) untuk siap taat kepada Alloh dan Rasul-Nya. Berbai’at adalah pernyataan seseorang untuk masuk ke-dalam sistem Islam untuk siap taat kepada ulil amri minkum selama sesuai dengan ketetapan Alloh dan Rasul-Nya.

BERBAI’AT ADALAH KEWAJIBAN SETIAP MUSLIM, MENGAPA DI MASA KHULAFAUR RASYIDIN TIDAK SEMUA KAUNI MUSLIMIN MELAKSANAKAN BAI’AT UNTUK MENGANGKAT DAN TAAT KEPADA KHOLIFAH?

Pada masa khulafaurrasydin sistem Islam Telah menguasai ummat sehingga semua yang dibawah kekuasaannya adalah wajib taat, dan bai ‘at dapat diwakili oleh para wakil Ummat. Namun pada masa Rasululloh SAW dimana kejahiliahan masih dominan maka setiap ummat harus diketahui dukungannya terhadap sistem Islam. Begitupula hari ini ummat Islam wajib menyatakan bai ‘atnya agar diketahui komitmennya untuk mendukung Khilafatul Muslimin sebagai khilafah ‘ala minhajinnubuwah.

BAGAIMANA HUKUMNYA BERBAI’AT TIDAK PADA SISTEM KHILAFAH ?

Berbai’at menurut sunnah hanya ada dalam system Islam yakni kenabian dan kekholifahan. Maka jika dilaksanakan diluar system khilafah maka berarti diluar sunnah sehingga ia tertolak.

APAKAH YANG MENJADI DASAR ADANYA REDAKSI BAI’AT WARGA KHILAFATU MUSLIMIN SEPERTI TERLAMPIR?

Redaksi bai’at tersebut didasarkan pada redaksi Bai’at Aqobah pertama yakni : Dari Ubadah bin Ash-Shamit bahwa Rasululloh SAW berkata, “Kemarilah kalian semua, berbai’atlah kepadaku untuk tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak mem-bunuh anak-anak sendiri, tidak akan berbuat dusta yang kalian ada-adakan diantara tangan dan kaki kalian, tidak durhaka atasku dalam urusan yang baik. Barang siapayang memenuhi semuanya diantara kalian maka pahalanya ada disisi Allah SWT. Dan barangsiapa yang mengambil sesuatu darinya lalu disiksa di dunia, maka itu merupakan bagi dosanya, dan barang siapayang mengambil sesuatu darinya, kemudian Alloh menutupinya, maka urusanya ada pada Alloh SWT. Jika berkehendak Dia akan menyiksanya dan jika berkehendak Dia akan mengampuninya.” (HR Bukhari). Ash Shamit berkata akupun berbai’at kepada beliau. Di dalam QS 60: 12 terdapat bai’at para mukminat dengan redaksi tidak jauh berbeda.

APAKAH DENGAN BERBAI’AT JUGA BERARTI SESEORANG ITU HIJRAH DAN BERTAUBAT?

Dengan berbai’at seseorang hijrah dari kepemimpinan non Islam kepada kepemimpinan Islam dan dengan janji kepada Alloh untuk tidak melakukan kesyirikan dan kemaksiatan maka itu berarti ia telah bertobat kepada Allah SWT. Rasululloh SAW bersabda seseorang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak pernah berdosa.

BAGAIMANA CARA PELAKSANAAN BAI’AT MENURUT SUNNAH RASULULLAH SAW ?

Dalam pelaksanaan bai’at Rasulullah SAW menjabat tangan orang yang berbai’at kecuali terhadap wanita.

Sumber: khilafatulmuslimin.com

Related Articles

Add Comment